Friday, 19 June 2015

A matter of time

Yeap, time flies. Like.. a rocket. We are now entering the second day of Ramadhan and I’m like.. Seriously? It’s Ramadhan again. The holy month which every moeslims (me included) are always waiting for. Never thought that it would be this fast. Does the earth add its speed to travel around the sun, though? I don't know.. Not so sure about that.

But, wait, no—that makes no sense.
If earth traveled around the sun faster, then the clocks at my home would be all belated. And I know my mom wouldn't stand it. She hates late clocks. Believe me, she even hates accurate clocks. You know that type of person, right? Who sets the time on watch, clock and all the devices they got 20 minutes earlier than normal. I got late easily, that’s why I set my clock few minutes earlier than it is, so that I won’t be late again’ that is what they will explain. And, this is exactly the reason why I—never, ever trust anything that my mom says when she woke me up, especially in the morning. (I’m sorry, Mom)

Sunday, 14 June 2015

Latah

Arya sungguh lelah dengan semua. Sejak sore kepalanya terus bertanya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya? Mengapa kali ini Arya merasa. Dunia ini planet super mega. Untuk dihuni oleh makhluk sekecilnya. Arya ingin coba terjun dari atas menara. Sudah terlalu banyak cara yang ditempuhnya. Namun dunia belum juga tahu eksistensinya. Sempat Arya bertanya pada dirinya. Adakah makhluk di luar angkasa sana. Yang sedang menantikan posisinya di dunia?

Arya seolah ingin pasrah dengan semua. Sudah tepat 3 jam kepalanya terus bertanya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya? Setiap hari disuguhi inspirasi. Inspirasi hanya buat ekspektasi menjadi tinggi. Tak bermakna jika tak ada yang direalisasi. Arya jadi pusing sendiri. Ribuan kisah menginspirasi telah dikonsumsi. Mulai dari motivator di televisi. Para menteri dan pejabat tinggi. Mahasiswa mahasiswi. Siswa siswi berprestasi. Hingga musisi dalam negeri.

Semuanya ingin Arya lakukan. Sampai membuatnya terlihat latahan. Melihat orang pandai menyanyi. Ingin belajar menyanyi. Melihat orang membuat puisi. Ingin menjadi puitisi. Melihat orang menjadi juara. Berlatihlah dia sampai tak bertenaga. Melihat orang mendapat beasiswa ke luar negeri. Ia coba sampai mati. Hanya satu yang belum berani dia tekuni. Yakni bergabung dalam suatu organisasi. 

Semua terasa tidak riil. Arya seakan tak memiliki keteguhan internal. Seakan jalani hidup yang tak prinsipal. Seseorang tolong berikan Arya saran. Apa yang sebenarnya harus Arya lakukan?

Friday, 5 June 2015

Selamat datang!

Baru bikin blog lagi, nih. Masih baru. Belum ditulis apa-apa. Mau belajar nulis, mau bisa kritis. Semoga saja bisa membawa manfaat, ya. 

p.s: through blogging I feel like I have a voice to be heard, karena itu gue mau blogging lagi :)